Jam sudah menunjukkan pukul 04:30 subuh, sesegera mungkin saya bergegas untuk pergi bekerja sementara kulihat disekitar rumahku masih terlihat sepi dan lengang. Mereka masih terbuai mimpi dipagi yang dingin. Ya waktu yang sangat ideal untuk bermimpi…

Hanya sebuah mesjid yang tepat berada di depan rumahku yang sudah mulai terlihat ada kehidupan. Sambil melantunkan beberapa ayat Al-Qur’an seorang penjaga masjid berusaha untuk membangunkan orang-orang disekitarnya *untuk melaksanakan shalat subuh – sementara saya biasa shalat subuh di kereta* dari mimpi-mimpi yang entah kapan jadi kenyataan . Seperti mimpinya rakyat jelata, wong deso yang kehidupannya semakin hari semakin sulit.

Sementara saya semakin mempercepat langkah kaki menuju tempat dimana angkot biasa “ngetem“. Waktu semakin cepat saja bergulir dan tanpa kompromi sedikitpun. Sementara sang angkot dengan setia masih “ngetem” tanpa bergeming sedikitpun seolah tidak perduli kalo ada penumpang yang sudah kebelet atau bahkan mau mati sekalipun. Ya si supir masih terus menunggu dan menunggu yang entah sampe kapan hanya sekedar untuk mengais rejeki dari orang-orang yang lewat yang mungkin membutuhkan jasanya *kalau kondisinya tidak terburu-buru mungkin saya tidak keberatan*.

Dengan perasaan yang tidak menentu lalu saya mencoba untuk membujuk sang supir agar segera memacu kendaraannya karena saya harus segera sampai di stasiun kereta untuk mengejar kereta yang akan berangkat ke Jakarta. Dengan perasaan enggan akhirnya si sopir mulai menekan gas dan angkot mulai berjalan.

Sesampainya di stasiun waktu menunjukkan pukul 5 kurang dan terdengar sayup-sayup bahwa kereta akan segera berangkat. Tanpa ba bi bu saya pacu kaki menuju kereta dan tanpa berpikir panjang saya langsung naik kereta yang siap akan berangkat. Setalah kereta mulai berangkat baru tersadar bahwa saya belum membeli “tiket” kereta. Akhirnya dengan pasrah saya mencari tempat duduk yang kosong *untung masih ada yang kosong* dan saya bertemu dengan orang yang senasib sepenanggungan.

Akhirnya tibalah giliran sang kondektur memeriksa tiket kami. Dari beberapa informasi yang kami dengar bahwa sang kondektur bisa diajak “damai” dengan harga jauh lebih murah dari harga tiket. Namun ternyata *karena kedapatan tidak punya tiket* kami langsung diminta untuk membayar 2x harga tiket sesuai aturan. *ala maaak… tiketnya dah mahal suruh bayar 2x lagi.. duit dari hongkonggg…??*

Akhirnya sedikit nego kita bisa beli tiket dengan harga normal. Namun ada yang aneh karena cacatan yang tertera ditiket tidak sesuai dengan harga yang sebenarnya *nilainya lebih kecil*. Kami sebetulnya sudah curiga dan ingin mempertanyakan masalah ini, namun karena tidak punya kuasa dan takut sang kondektur berubah pikiran akhirnya kami terima *daripada membayar 2x atau diturunkan di tengah hutan yang gelap.. iihh tatuut…*.

Memang sebetulnya kalo menurut aturan saya harus bayar 2x lipat dari harga tiket. Namun ternyata terkadang kita tidak siap tatkala dihadapkan pada kondisi seperti itu *sehingga kita nego utk mendapatka keringanan*, apalagi ketika harus menggunakan jasa tersebut tiap minggu yang jelas2 memeras kocek yang tidak sedikit. Dan kita telah merasa berjasa memberikan sumbangsih untuk perkembagan perkeretaapian yang semakin hari kian merosot pelayanan dan kualitasnya.

Seolah ada perasaan tak rela harus mengeluarkan kocek lagi untuk sesuatu yang mengecewakan. Betapa tidak hari ini kereta terlambat lagi seperti biasa seperti lagunya Iwan Fals:

tiba di stasiun kereta pukul setengah 2
aku lama menunggu tanya loket dan penjaga
kereta tiba pukul berapa…
biasanya kereta terlambat 2 jam cerita lama…