Barangkali kita pernah melihat salah satu aksi Deddy Kobuzer di televesi dimana dia bisa membengkokkan sebuah sendok atau mengajak para pengunjung restoran bareng2 pecahin gelas atau bagaimana piring dan gelas bisa berterbangan hanya dengan kekuatan pikiran. Ya itulah telekinetis, sebuah kekuatan yang ada di dalam diri manusia yang tidak kita sadari keberadaannya.

brain-machin.jpgTelekinetis umumnya dimiliki seseorang karena bakatnya yang luar biasa. Namun bukan berarti orang yang tidak mempunyai bakat tidak bisa mempunyai kekuatan telekinetis karena telekinetis bisa dipelajari walaupun mungkin memakan waktu yang lama.

Namun berkat teknologi yang sekarang dikembangkan maka kemampuan telekenetis atau teknologi kontrol pikiran suatu saat bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa harus belajar telekinetis. Setidaknya itulah yang sedang dikembangkan oleh salah satu perusahaan di Jepang, Hitachi yang belum lama ini memperagakan prototipe sebuah alat yang bernama “Brain-Machine Interface“.

Alat yang dikembangkan tersebut berupa sejenis topi yang dipakai seseorang yang terhubung dengan serat optik pada suatu alat atau benda tertentu. Alat ini mampu menganalisis perubahan aliran darah di otak dan menerjemahkan pergerakan otak menjadi sinyal elektrik untuk menggerakkan benda.

Pada peragaan tersebut terlihat seseorang menggerakkan sebuat kereta mainan hanya dengan menggunakan alat tersebut yang dikontrol oleh otak. Demikian seperti yang diberitakan di foxnews.com

Brain-machineSebenarnya teknologi ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya sekitar Desember 2004 sebuah perusahaan Amerika Cyberkinetics telah melakukan ujicoba klinik pada manusia dengan menanamkan sebuah “brain-computer interface” — atau disebut juga ‘BrainGate’– seukuran aspirin.

BrainGate ini nantinya bisa digunakan pada pasien yang lumpuh sehingga dia bisa berkomunikasi melalui pikiran yang diterjemahkan melalui “computer control”.

Suatu penelitian di University of Pittsburg juga telah mendemontrasikan dimana seekor kera bisa memberi makan dirinya sendiri menggunaka tangan robot dengan menggunakan sinya dari otak si kera tersebut.

Memang teknologi ini belum sempurna namun setidaknya ini adalah langkah awal dimana suatu saat apabila dipadukan dengan teknologi wireless –seperti bluetooth– maka tidak menutup kemungkinan kita bisa menggantikan remote kontrol, keyboard atau bahkan bisa digunakan oleh orang cacat untuk mengoperasikan kursi roda elektrik.

Jadi suatu saat kita bisa menggerakkan sesuatu tanpa harus memiliki bakat seperti Dedi Kobuzer atau belajar ilmu telekinetis yang memakan waktu lama dan butuh kesabaran.