Manusia modern, pada umumnya mengandalkan diri sendiri, mengandalkan prestasi dan kemampuan diri, mengandalkan amaliyahnya dalam soal ruhani dan spiritualnya, mengandalkan nama besar dan masa lalunya. Begitu berbuat salah, ia terpuruk dalam pesimisme terhadap rahmat Allah, dan bahkan harapannya kepada Allah surut seketika, karena kesalahan dan dosa dianggapnya sebagai ancaman terbesar atas kecelakaan dunia akhiratnya.Ia seperti terancam masa depannya, rizkinya, pengkabulan doanya, bahkan merasa terancam ketika kesalahan dan dosanya diketahui oleh sesama. Inil semua gara-gara mereka lebih suka mengatur Tuhannya dibanding diatur oleh Allah. Ia lebih memilih seleranya dibanding Kehendak Allah. Mereka lebih bergembira jika sukses itu sebagai bentuk keridloan Allah, dan gagal itu sebagai takdir ketidak relaan Allah padanya. Mereka bahkan menganggap ambisinya sama dengan kehendak Allah.

Kepenatan dan kejenuhan sebenarnya sekadar jedah psikhologis dari masa lampau ke masa kini, lalu harapan di depan terasa hambar. Jika manusia mengenal masa depannya yang hakiki, kejenuhan itu akan berubah menjadi gairah yang luar biasa. Jika anda tidak mampu memandang secara hakiki tentang masa depan yang abadi, Allah Robbul Izzah, maka pandanglah janji-janjiNya di akhirat. Jika janji-janjiNya di akhirat belum meyakinkan dirimu, renungkanlah nikmat-nikmat di kubur kelak. Jika itu masih belum membuka hati anda, maka lihatlah sisa usia anda saat ini, optimislah karena anda masih ditakdirkan sebagai orang yang beriman kepadaNya.

Seorang guru di sekolah akan semakin penat jiwanya, manakala hanya memandang kepentingan profesinya, dalam batas waktu sampai pensiun. Mestinya ia mulai melihat betapa tanggungjawab membawa anak didik mereka ke masa depan, bukan hanya di dunia ini, tapi masa depan anak-anak itu sampai ke akhirat, bahkan sampai di hadapan Allah Ta’ala.

Kaum professional akan semakin terseret dalam mimpi buruknya manakala yang tercetak di otaknya hanya sukses, sukses, sukses dengan ambisinya yang maniak. Impian dan ambisi itu toh ditimbang sama dengan rasa kecewa, frustrasi dan kegagalan. Semestinya ia mulai mengembangkan senyum dari bibir hatinya bahwa bekerja sesuai dengan keahliannya itu merupakan amanah Ilahi, dan Allah menilainya dalam rasa yakin, rasa ikhlas, rasa syukur dibalik gairah kerjanya itu. Allah sama sekali tidak menilai sukses dan gagalnya pekerjaan itu. Ambisi dan nafsu akan semakin membuat seseorang menjadi egois, sementara, semangat dengan rasa yakin pada Allah akan melahirkan rasa syukur dan keindahan kerja.

Seorang ibu rumah tangga akan terbebas dari kebosanan dan kepenatan kalau ia melihat bahwa kemuliaannya justru terletak pada kasih sayangnya kepada anak-anak dan suaminya, kesabaran dan kerelaannya menjadi induk dari sebuah generasi yang bercahaya di akhirat kelak.”Ibunda yang mulia,” adalah kalimat paling indah yang tak bisa dinilai oleh kesenangan-kesenangan sejenak atau harapan-harapan semu lainnya. Ibunda adalah pelabuhan sekaligus menghantar ke samudera.

Seorang Kyai, Ulama dan Ustadz, akan merobohkan dinding penghalang jiwanya dengan Allah, manakala hatinya paling dalam digali, dan disana ada mutiara terpendam, bahwa dirinya ternyata harus menjadi Ulama Billah (Ulamanya Allah, Ulama yang mengenal Allah, Ulama yang menghayati pengethauan tentang Allah), bukan ulama dunia, bukan pula ulama penguasa, ulama massa, ulama publik, ulama pop, ulama seleb, atau ulama yang memanfaatkan nafsu keulamaannya.

Orang jenuh karena ingin bebas dari belenggu. Kebebasan itu akan diraihnya manakala ia merasa sama sekali tidak bebas. Karena Allah tidak menzolimi hambaNya, juga tidak menginginkan hambaNya terbelenggu di dunia. Raihlah kebebasan yang hakiki.

Syeikh Ad-Daqqaq pernah mengatakan “Kebebasan berarti bahwa si hamba bebas dari belenggu sesama makhluk; kekuasaan makhluk tidak berlaku atas dirinya. Tanda absahnya kebebasan adalah, bahwa tersingkirnya pembedaan tentang segala hal dalam hatinya, sehingga semua gejala duniawi sama di hadapannya.”

“Orang yang datang ke dunia ini dalam keadaan bebas darinya, akan berangkat ke akhirat dalam keadaan bebas Pula.” Dalam sebuah ucapannya Pula, “Orang yang hidup di dunia dalam keadaan bebas dari dunia, akan bebas pula dari akhirat.”

“Ketahuilah bahwa hakikat kebebasan diperoleh dari kesempurnaan ubudiyah, sebab jika ubudiyahnya benar, maka kebebasannya dari belenggu akan sempurna. Mengenai mereka yang mengkhayalkan bahwa ada waktu dimana seseorang boleh melepaskan ibadat dan berpaling dari hukum yang tersirat dalam perintah dan larangan Allah swt, sementara dirinya dalam keadaan mukallaf, maka tindakan itu keluar dari agama.
Haritsah r.a. mengatakan kepada Rasulullah saw, “Saya telah menjauhi dunia. Batu dan emas yang ada di bumi tidak ada bedanya bagi saya.”
Allah swt. berfirman kepada Rasulullah saw.: “Beribadatlah kepada Tuhanmu hingga datang kepadamu keyakinan.” (Q.s. Al-Hijr: 99).

Para ahli tafsir sepakat bahwa “keyakinan” di sini berarti “saat kematian”.
Manakala Para Sufi berbicara tentang kebebasan, yang mereka maksud adalah, bahwa si hamba tidak berada di bawah perbudakan oleh sesama makhluk ataupun diperbudak oleh perubahan keadaan kehidupan duniawi ataupun ukhrawi; ia akan menunggalkan diri kepada Allah Yang Esa. Tidak sesuatu pun yang memperbudaknya, baik perkara duniawi yang bersifat sementara, pencarian kepuasan hawa nafsu, keinginan, permintaan, niat, kebutuhan ataupun ambisi.

Asy-Syibly pernah ditanya, “Tidak tahukah Anda bahwa Allah Maha Penyayang?” Beliau menjawab, “Tentu. Tapi, karena aku telah tahu bahwa Dia Maha Penyayang, maka aku tidak pernah meminta kepada-Nya agar menyayangiku. Dan maqam kebebasan sungguhlah mulia.”

Rasanya hanya ada dua kata yang bisa merubah kejenuhan, ketakutan, krisis psikhologis menjadi sebuah harapan agung: Harapan bertemu Allah, dan berharap Allah. Harapan bertemu Allah melalui amaliyah, ibadah, baik syariah maupun haqiaah, dzohid dan batin, dengan cara yang saleh dan keikhlasan hanya bagi Allah. Keikhlasan sejati, tanpa berhala di sekitar Ka’bah hati kita.
Sedangkan harapan kepada Allah, adalah wujud dari perjalanan kita menapaki jejak-jejak Rasulullah SAW, meneladani lahir dan batinnya dalam wilayah Uswatun Hasanahnya.

Dua kalimat ini juga mengakumulasi seluruh pembebasan kita. Disebutkan oleh Ibbnu Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam:
“Janganlah engkau berjuang memaksa diri terhadap hal-hal yang sudah dijamin Allah. Dan janganlah engkau meremehkan hal-hal yang diwajibkan Allah kepadamu….”
Anda masih jenuh.

Artikel ini disadur dari : http://www.sufinews.com