Entah, berapa ratus juta ummat menusia saat ini yang mengalami kepenatan hidup, kebosanan dan kejenuhan di tengah rutinitas sehari-hari. Lenguhan-lenguhan mereka, terdengar parau, menyembul antara batas kekecewaan, ketakutan, harapan, dan hasrat-hasrat tersembunyi yang tak tergapai.

Coba kita tengok sejenak, ketika seorang guru di sekolah, setiap hari mengajar para murid di sekolah, tiba-tiba berangan-angan, kenapa bertahun-tahun jadi guru nasibnya juga tidak berubah? Apakah ia tidak ingat ketika berjuang agar diterima menjadi guru ketika awal perjalanan karirnya dimulai? Padahal Allah sedang menilai keikhlasannya menularkan ilmu pengetahuan kepada ummat manusia.

Seorang professional sedang giat-giatnya bekerja keras, lalu karirnya mencapai puncak yang diimpikan. Begitu sampai pada tahap puncak, ia mempertanyakan diri sendiri, apa yang sebenarnya saya cari selama ini? Kenapa kebahagiaan sejati tak kunjung tiba, dan kepuasan memburu materi dan karir juga tak henti-henti menggodanya? Ia kesepian, lalu diam-diam ia terlempar dalam kejenuhan sehari-harinya. Lalu dimana penilaian Allah terhadap perjalanan hidupnya selama ini? Pada kerja kerasnya? Ambisinya? Atau suksesnya selama ini?

Seorang ibu rumah tangga mulai jenuh sebagai ibu bagi anak-anaknya dan isteri bagi suaminya. Ironis sekali! Kerumitan dan problema, nafas dan keringat bertahun-tahun yang keluar dari dalam tubuhnya, diingatnya sebagai “nasib” yang belum menguntungkan. Lalu muncul alas an-alasan, “Kalau bukan karena anak-anak…Kalau bukan karena ini dan itu….Kalau bukan karena takut dosa… Kenapa bertahun-tahun begini dan begitu saja….? dll….” Kejenuhan yang muncul ketika mereka mulai kehilangan rasa syukur kepada Allah. Nikmat-nikmat Allah tertutup oleh sekadar kekecewaan atas sandungan masalah, problem besar dan kecil saat itu, lalu dinilai telah menghapus seluruh nikmat Ilahi.

Seorang aktivis gerakan Islam ikut-ikutan jenuh. Karena pandangan ideology ke-Islamannya selama ini bukan malah membuat dirinya bercahaya dan damai, tetapi telah melemparkan kegersangan spiritual. Semula ia bangga menjadi aktivis, merasa menjadi pejuang, merasa menjadi hero Islam, kenayataan jiwanya kerontang bagai nyaringnya tong yang bertalu-talu. Kemanakah jiwa mereka selama ini? Kemanakah Allah yang selama ini mereka bela dan mereka sebut-sebut? Kesalahan besar macam apakah yang menimpa mereka?

Bahkan seorang Kyai Khowas, diam-diam menertawai diri sendiri. Ia malu di depan cermin, karena sempat protes kepada Allah, “Ya Allah, enaknya jadi orang biasa saja, tidak terbebani tanggungjawab ruhani seberat ini… Enaknya jadi orang biasa saja…..”. Ia jenuh, bosan, tapi juga tertawa….

Ilustrasi tersebut akan semakin berderet panjang, bergumul satu dengan lainnya, bersinggungan antara masa lalu, masa kini dan impian masa depan.

Sebegitu membosankankah dunia ini? Apakah watak dunia memang sedemikian rupa, sedemikian rumit dan sedemikian bermasalah? Atau yang terjadi sebaliknya, masyarakat mulai tumpul hatinya, mulai mencari sisi-sisi lain yang di luar zaman dan ruang wilayah yang selama ini digeluti?

Anda juga mengalami kejenuhan? Berapa kali sehari ini tadi anda menghela nafas dalam-dalam untuk mengeluarkan kejenuhan anda? Berapa kali anda berdecak untuk sekadar kontra terhadap takdir Allah kepada anda hari ini?

“Betapa sedikit kalian bersyukur….” Begitu Allah menjawab semua keluhan dari berjuta-juta hambaNya.

Lanjutan bahasan dan solusi akan dibahas pada Bag 2…
(to be continued….)