Sebagai bagian dari perjanjian dengan FCC (Federal Communications Commission) yang menyetujui akuisisi BellSouth oleh AT&T, AT&T yang merger dengan salah satu perusahan penyedia Internet, Wireles, DSL dan Digital TV, BellSouth, akhirnya mulai menjual Layanan DSL (Digital Subscriber Line) mereka dengan harga sekitar USD$ 10 perbulan di sekitar 22 wilayah. Harga ini jauh lebih murah dibandingkan harga sebelum merger yaitu USD$ 19.95 perbulan untuk area BellSouth dan USD$ 14.99 untuk area yang telah di cover oleh AT&T.

Adapun kapasitas bandwitdh yang ditawarkan lumayan besar yaitu 768 kbps untuk downsteam dan 128 kbps upstream. Bandingkan dengan harga ADSL kita yang kapasitas download nya sebesar 384 kpbs dan upload 64 kbps dengan harga yang sangat mahal.

Dan sudah menjadi hal yang umum bahwa Internet di Negara kita sangat mahal tapi dengan kualitas dan speed yang sangat rendah. Dan kalo dibandingkan dengan negera-negara maju negara kita masih sangat ketinggalan dalam hal bandwidth. Bahkan di Singapura pemerintahnya turun tangan langsung dengan menyediakan HotSpot secara gratis disekitar pertokoan, perkantoran dan perumahan yang meliputi sekitar 3400 titik.

Tentunya ini menjadi PR bagi pemerintah kita (kalau memang seirius memajukan Internet) dengan turun langsung menangani masalah bandwidth ini. Karena bandwidth dengan kecepatan tinggi dan harga murah adalah harapan dan bahkan impian bagi kita semua.

Seandainya ada perusahaan seperti AT&T masuk ke Indonesia (dalam hal penyediaan infrastruktur komunikasi) dan merger dengan salah satu perusahaan telekomunikasi Indonesia seperti Telkom mungkin Negara kita pun bisa memiliki DSL dengan bandwidth yang tinggi dan harga yang relatif terjangkau.

Dengan demikian Internet di Indonesia akan bisa lebih maju karena pengguna Internet bukan hanya dari kalangan berada, kantoran atau lingkungan akademis, tapi juga bisa dinikmati oleh masyarakat awam baik itu diperkotaan atau bahkan di daerah.

Namun selama telekomunikasi kita masih “dimonopoli” maka untuk mempunyai akses Internet dengan kecepatan tinggi dan harga yang murah hanyalah sebuah impian. Walaupun “jargon” “News.com” di salah satu TV swasta menyatakan “jangan hanya bisa mimpi” tapi kenyataannya itulah yang bisa kita dilakukan. Kita hanya bisa bermimpi untuk bisa memiliki koneksi Internet yang murah dan cepat.